Mengambil keputusan adalah tindakan yang cenderung dihindari banyak orang. Ini disebabkan karena orang takut melakukan kesalahan. Selain itu, berani mengambil sebuah keputusan berarti berani mengambil resiko. Resiko inilah yang dihindari banyak orang. Padahal untuk menjadi sukses kita harus berani mengambil sebuah keputusan, meskipun pahit.

Dalam setiap keputusan pasti ada risiko. Tapi tidak mengambil keputusan karena didorong rasa takut sebenarnya memiliki potensi risiko yang lebih fatal. Pada dasarnya, rasa takut menunda datangnya kesempatan. Ketakutan yang berlebihan membuat kesempatan itu tidak akan pernah datang.

Tapi di sisi lainnya, pengambilan keputusan secara serampangan tanpa pertimbangan matang, juga bisa menghilangkan kesempatan. Yang kita perlukan adalah pemikiran yang tuntas untuk bisa mengambil keputusan terbaik. Dan yang lebih penting adalah keberanian mengambil keputusan dan melaksanakannya.

Sekedar sharing pengalaman saja. Ada dua keputusan besar yang saya ambil selama hidup. Yang pertama, keputusan untuk menikah pada usia 21 tahun. Keputusan yang mendadak dan terkesan tergesa-gesa saya saat itu menimbulkan banyak pertanyaan dari keluarga besar dan para tetangga.

Pertanyaannya bervariasi mulai dari pertanyaan sindiran sampai yang bernada sinis, Emang kamu sudah siap? Emang kamu sudah punya rumah? Gaji kamu sekarang berapa? Masih kecil koq buru-buru mau nikah? Calonnya udah hamil duluan ya? Wah…wah.. macem-macem deh. Kekhawatiran juga datang dari orangtua saya, karena mereka khawatir sebagai bakti saya terhadap orang tua bisa berkurang, atau bahkan saya tidak bisa memberi ‘uang bulanan’ lagi. he..he..

Awalnya sempet down juga, tapi saya lebih yakin dengan janji Allah, “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendiri (bujangan) di antara kalian dan orang-orang shaleh di antara para hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka dalam keadaan miskin, Allah-lah yang akan menjadikan kaya dengan karunia-Nya.” (Q.S. An-Nur : 32). Dan sabda Nabi-Nya, “Nikah adalah sunnahku, barang siapa yang membenci sunnahku maka dia bukan golonganku.”

Ya sudah, dengan memberikan pengertian kepada mereka akhirnya pertanyaan meraka bisa saya jawab dengan baik dan saya berjanji bahwa bakti saya terhadap orang tua tidak akan berkurang dengan saya menikah, bahkan akan semakin meningkat. Ssst…ngomong-ngomong gaji saya ketika itu baru 350 ribu rupiah, gaji yang pas-pasan!

Alhamdulillah, seminggu setelah saya menikah gaji saya langsung naik dari 350ribu menjadi 750ribu. Setahun kemudian saat anak pertama kami lahir, kami bisa memiliki rumah sendiri meskipun masih mencicil. Dua tahun kemudian saya bisa menunaikan ibadah haji ke Masjidil Haram. Dan selain itu banyak karunia Allah yang kami dapatkan. Inilah berkah dari berani mengambil keputusan untuk menikah.

Keputusan besar yang kedua adalah ketika bulan ini saya memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya sebagai karyawan swasta. Sangat berat memang untuk meninggalkan kantor tempat saya mencari nafkah selama hampir 15 tahun disaat karir saya mulai menanjak. Tapi saya harus berani mengambil keputusan ini demi masa depan yang lebih baik untuk saya dan keluarga saya. Saya keluar dari zona nyaman dan kini saya resmi menjadi “pengangguran banyak duit.” he..he..he..

Saat ini saya menjalani bisnis mandiri saya seperti menjual produk fisik di internet, menjadi affiliate marketer untuk produk orang, menjadi investor bisnis, dan merintis bisnis properti bersama kawan lama saya. Alhamdulillah semua berkembang cukup bagus dan semoga Allah memberikan keberkahan atas semua amal dan usaha yang kita lakukan dengan ikhlas.

Suatu hal yang harus kita pahami, bahwa dalam hidup ini selalu ada keputusan-keputusan yang harus kita ambil. Dan tidak mengambil keputusan itu adalah suatu pengambilan keputusan. Semuanya memiliki resiko. Dalam mengambil keputusan, cobalah melihat sesuatu dari sudut pandang lain, karena apa yang baik bagi sebagian besar orang, belum tentu baik bagi diri kita. Semua pilihan kembali pada kita, dan untuk sukses kita membutuhkan keberanian mengambil sebuah keputusan, meskipun pahit.

Filed under: Pencerahan